Laman

Wednesday, April 28, 2010

bultang kalah SAING

Ada berita dari si tepok bulu kesukaan saya . Tapi beritanya rada menyedihkan*bisa dibilang sangat menyedihkan bahkan .


Check it out ...

Gaung Thomas & Uber Cup 2010 nyaris tak terdengar! Padahal kurang dari dua minggu lagi, kejuaraan bulutangkis beregu paling bergengsi di dunia itu akan dimulai.


Tak banyak masyarakat yang menyadari kehadiran perhelatan akbar dua tahunan tersebut karena hingar bingarnya tertutup oleh semarak Piala Dunia Sepak Bola. Jangan salahkan masyarakat, sebab media turut andil akan hal ini. Sebagai contoh, salah satu TV swasta mengadakan kompetisi menghias gapura di lingkungan sekitar dengan embel-embel Piala Dunia. Kemudian, baru-baru ini ada sebuah produk yang menyelenggarakan kompetisi blogging dengan hadiah nonton gratis Piala Dunia di Afrika Selatan. Belum lagi undian berhadiah serupa yang digelar oleh sebuah produk soft drink, jaringan ritel, atau produk eletronik. Sayangnya, hingga detik ini saya belum mendengar ada kompetisi atau undian yang hadiahnya menonton Thomas & Uber Cup. Padahal, perhelatan akbar itu diadakan di negeri jiran, yang jaraknya hanya satu jam penerbangan dari Jakarta! Semut di seberang lautan saja tampak, masa gajah di pelupuk mata bisa tak tampak??

Bangsa ini terlalu sibuk hingga tak memperhatikan bahwa ada sekelompok putra pertiwi yang tengah berjuang di negeri sebrang demi membela kehormatan negara. “Kelewatan kalau tidak ditemani” ujar budayawan Prie GS mengenang perhelatan Thomas Cup 2002 yang juga sepi dari liputan media. Yang dimaksud menemani disini tentu saja dengan cara menonton pertandingan mereka di televisi atau peliputan oleh media massa lain.

Meski kecewa, Prie dapat memaklumi sikap masyarakat kita yang cuek beibeh dengan pertandingan akbar 8 tahun lalu yang akhirnya dijuarai Indonesia itu.

“Saat itu kita benar-benar sibuk. Presiden Megawati juga masih berkunjung ke Timor Timur. Aneka televisi yang makin banyak itu juga sibuk dengan programnya sendiri-sendiri. Apalagi betapa susah sekarang ini membuat acara berating tinggi. Oya, Gus Dur juga kedapatan sedang menuntut Amien Rais. Penangkapan Ja’far Umar Thalib belum reda dari soal kontroversi. Para ABG sedang demam Meteor Garden. Yang lain lagi sedang gelisah apakah kaki David Beckham akan sembuh. Pendek kata, ini negara, dari anak muda, orang tua, ibu-bu, para politisi dan presiden sedang sibuk luar biasa” kata Prie, dalam blog pribadinya.

Sejarah mencatat, setelah melewati pertarungan yang sengit, Indonesia akhirnya berhasil memboyong Thomas Cup pada perhelatan 2002 itu. Prie menyaksikan detik-detik kemenangan melalui televisi. Ia menangis. Terharu. Bangga ….. sekaligus sesak dan malu.

“Lebih malu lagi ketika saat menangis itu, saya merasa sendiri. Tetangga dan banyak orang di negara ini sedang sibuk sekali. Pasti banyak sekali yang tidak mendengar Lagu Indonesia Raya yang terdengar sangat berbeda dari upacara-upacara rutin” kata Prie.

Tentu saja kondisi ini berbeda dengan keadaan di era 1970 dan 1980 ketika masyarakat begitu gegap gempitanya menyambut perhelatan Thomas & Uber Cup serta All England.

”Jalan sepi. Toko-toko pada tutup. Semua orang ingin berada di rumah, bergerombol di depan TV menonton atlet kita bertanding” kata ibu saya.

”Tiap sore, gang dan lapangan dipenuhi orang-orang yang main bulutangkis. Saking demamnya, sampai-sampai diciptakanlah lagu badminton yang terkenal itu” tutur bapak.

Badminton dimana-mana … Di kota dan di desa ..

Hm, tentu saja pemandangan diatas tak dapat ditemukan lagi di jaman sekarang.

Pemerintah, media, dan masyarakat tak peduli dengan bulutangkis. Mereka baru kebakaran jenggot dan menunjukan atensinya kala Olimpiade sudah di depan mata. Berharap dan menghiba sedemikian rupa agar bulutangkis mampu menyumbang medali. Humph!!

Sebagai penggemar bulutangkis, saya akan menyemarakkan perhelatan Thomas & Uber Cup 2010 semampunya dengan cara memposting artikel terkait di blog sosial ini.

source : Indonesia Badminton Fans Club ( IBFC ) on FB

No comments:

Post a Comment