Laman

Sunday, April 24, 2011

cerpen lagi C:

blogs...heheh. knapa ketawa tawa?*efek liburan panjang tak berkesudahan dengan embel-embel banyak tugas. ahemm... lgi pngen pamer cerpen karya ORI dari sya (tugas dari ibu yuli guru bhs. Indon tercinta dari sekolah menengah atas negeri model terpadu bojonegoro*edunn lengkap dah), dgn proses pengerjaan duaminggulebihgakelarkelar. wkwkwk. okedah check this out gan....

Inginku Jadi Tentara-Mu
“ Pemirsa, seorang pria telah ditangkap karena hendak meledakkan sebuah bom di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat di daerah Jakarta Selatan…….”
Sayup-sayup namun jelas suara televisi dari ruang introgasi yang sedari tadi memperengarkanku akan berita yang sebenarnya telah ku buat sendiri. Ya, aku di ruang introgasi sekarang, sebuah kesalahan fatal telah aku lakukan. Tapi aku tak pernah berpikir berada dalam jalur yang salah, justru aku merasa inilah “the right way” yang harusnya ku ikuti dari dulu.
“ Jadi apa motif anda melakukan ini”
Suara polisi yang kulihat dari identitas di bajunya bernama Andika ini membuyarkan semua lamunanku.
“Saya tidak memiliki motif apapun, saya hanya ingin melakukan apa yang menurut kata hati saya itu benar.”
“Benar?? Dengan rencana meledakkan bom yang akan melukai semua orang seperti ini anda anggap benar?? Dimana otak anda bung?? Di dengkul? Hah?! Ternyata anak muda sekarang tak ubahnya seperti keledai yang mau saja di suruh-suruh. Bodoh!!!!”
Caci maki dari polisi satu ini memang akan sering ku dengar. Aku sadar banyak sekali orang-orang yang menganggap golongan kami adalah golangan orang-orang dengan otak miring, atau terlalu fanatik membela agama kami, tapi inilah jalan terbaik untuk ditempuh di antara jalan-jalan buntu lainnya.
Aku Antonio Martinez, cukup kalian panggil dengan Antonio, baru dua puluh tahun umurku. Bukan seorang keturunan Arab dengan ajaran muslim radikal. Atau mungkin dibesarkan dari keluarga penganut agama Islam. Sama sekali bukan, aku adalah keturunan Amerika yang tinggal di Indonesia, keluargaku sepenuhnya adalah penganut agama Nasrani, dan baru pada umur delapan belas aku menjadi seorang mu’alaf. Tentu keluargaku menentang dengan sangat keputusanku tersebut. Bahkan aku sempat diusir dari rumah kami, namun setelah dua minggu mereka bisa sedikit lebih tenang dan menerimaku kembali.
Semenjak menjadi muslim, aku belajar banyak tentang agama ini mulai dari nol. Tentang tata cara sholat, zakat, puasa, atau ibadah lain hingga sejarah dan kehidupan Islam pada zaman sekarang. Aku belajar hal ini dari guru spiritual sekaligus temanku sendiri, Azzam. Dari semua yang ku pelajari, aku begitu tersentuh akan ceritanya tentang penderitaan warga Pakistan dan Afghanistan yang menjadi bulan-bulanan pasukan kolalisi pimpinan AS. Derita mereka seolah ikut menyayat hatiku, ikut mengalir dalam darahku yang sekarang adalah saudara seiman mereka. Karena cerita inilah aku terobsesi menjadi seorang mujahid, demi membela Islam dan menyerukan jihad. Keinginanku itupun bak gayung bersambut, karena tak lama Azzam mengenalkanku pada seseorang bernama Jamal dan dua orang temannya, Rudi dan Farhan. Jamal lah yang kemudian meyakinkanku untuk menjadi “mujahid” dengan jalan “menghancurkan sarang neraka” tak lain dan tak bukan kantor Kedutaan Besar AS. Namun, belum sempat rencana itu kulaksanakan, polisi terlebih dahulu mengendus dan menyiduk ku.
“Hey anak muda…. Ada keluargamu, mereka ingin menjengukmu. Hah.. baik sekali mereka masih mau menjenguk anak tak tau diri dan tak punya otak sepertimu.” kata Andika polisi yang mengintrogasiku dengan sinis.
Sedari tadi sepertinya ia hanya menjadi obat nyamuk karena pertanyaan-pertanyaannya yang tak kupedulikan.
“Dimana mereka pak? Bolehkah saya menemui mereka? Saya mohon pak….” pintaku
“Baiklah, tunggu disini ! Jangan coba-coba kabur! Karena pengawasan pada teroris sepertimu sangat ketat” katanya menggertakku
Sejurus kemudian ia tampak keluar dari ruang introgasi dan berbicara pada polisi lain. Dan polisi lain itu pergi setalah mendapat komondo dari Andika, mungkin memanggil keluargaku. Dan tak lama aku melihat keluargaku datang dari balik kaca hitam ruang introgasi. Ada ibu, ayah dan adik perempuanku, Michelle. Setelah memperkenankan keluargaku masuk ke ruang introgasi, Andika mempersilakan aku berbincang dengan mereka. Tentu saja dengan penjagaan yang masih tetap ketat.
“Antonio, my dear… Kenapa kamu jadi begini nak ??”
Ibuku dengan mata sembab langsung pergi memelukku erat. Hatiku serasa di tusuk sebilah tombak berkarat, air mata ibuku menetes deras di pundakku, mengalirkan butir-butir kekecewaan dan kepiluan yang semakin terasa dalam menyayat perasaanku. Sementara kulihat disebrang sana ayahku menunjukkan raut muka marahnya, tapi aku bisa melihat jauh dari dalam matanya, ia begitu sayang sekaligus kecewa pada kelakuan anak sulungnya ini. Anak sulung yang harusnya menjadi panutan, malah seakan melempar kotoran ke muka kedua orang tuanya. Di sebelah ayah berdiri adik kesayanganku, Michelle. Tampaknya ia sama seperti ayah, marah tapi disisi lain juga sangat mengkhawatirkanku.
“Mom… maafkan saya, telah banyak dosa dan kesalahan yang saya lakukan. Maaf karena anak sulungmu ini telah mencoreng kehormatan kalian. Tapi, ini semua adalah wujud keyakinan dan keinginan saya menjadi mujahid yang sesungguhnya, membela kebenaran dan hak-hak orang-orang yang selayaknya hidup bebas dan tanpa penindasan.” Jelasku sambil berlutut di kaki ibu.
“Kalau kau mau bertindak, pikirkan matang-matang, jangan jadi sok pahlawan!! Memang yang kalu lakukan itu sudah benar? Hah!? Ada efeknya buat orang-orang yang ingin kau tolong? Bullshit!! Niatmu itu bagus, tapi pikir pakai otak! Muka orang tua kau injak-injak!!!” ayah yang sedari tadi diam mulai mencak-mencak menunjukkan kemurkaannya padaku.
“Sudahlah daddy, tak ada gunanya marah-marah di situasi seperti ini, percuma ….!!!” Ibu berusaha menenangkan ayah yang sampai pada klimaks kemarahannya.
“Mom benar dad, everything is too late now, sekarang adalah waktunya untuk memberi semangat buat kakak..” tak kusangka adikku yang sedari tadi diam dan kelihatan begitu marah, kini membelaku.
“Biarkan saja dia dipenjara, mau apa lagi kita, toh dia juga sudah tak peduli dengan keluarganya, jadi buat apa kita memperdulikan anak tak tahu diuntung ini? Hah !” kata-kata ayah begitu menghujam jantungku.
“Dad…!! Sudahlah…! Sebelum datang ke sini kau sudah janji kan tak akan marah-marah, mana janjimu ??” kata ibu
“Daddy benar mom, aku memang tak tahu diuntung, sudah dibesarkan dan dirawat seperti ini, tapi sekarang apa yang aku perbuat pada kalian…!?! aku salah! Harusnya aku mati sekalian agar tak menanggung malu seperti ini…” aku mulai menangis di sela kata-kataku.
“Jadi apa kakak menyesal….” Tanya Michelle
“Aku menyesal telah mempermalukan keluarga kita, tapi aku merasa benar untuk tindakan demi kebaikan yang kulakukan, sorry….”
“Hahhhh… sudahlah, tak ada gunanya kita disini, sia-sia! Toh dia juga tak akan pernah menyadari kesalahannya. Otaknya sudah dicuci!!!” kata ayah yang kemudian langsung berlalu pergi. Aku hanya bisa menyaksikan beliau pergi, ingin ku kejar dan memeluknya karena sungguh aku begitu menyayangi dan merindukannya. Sudah dua bulan lebih aku tak bertemu dengannya. Tapi aku tak kuasa melangkahkan kakiku yang serasa terpaku pada lantai-lantai kantor polisi sialan ini.
“My dear, maafkan ayahmu… dia terlalu emosi. Yakinlah dalam hatinya sungguh dia amat menyayangi dan merindukanmu. Kau tahu itu kan? Kami mengikhlaskan jika kau pindah agama, karena itulah keyakinan dan hakmu, tapi kami kecewa dengan cara yang kau gunakan. Yang kamu anggap benar, semata untuk membela penindasan. Ini terlalu radikal. Renungkanlah nak… jangan dengarkan orang lain, dengarlah kata hatimu. Mom, dad and also Michelle will always support and love you!” kata-kata ibu terasa sejuk menerpa hatiku.
“Ant… mom benar, pikirkanlah matang-matang, dan bertaubatlah selagi kau bisa. Di luar sana mungkin orang-orang akan mencaci dan meninggalkanmu, tapi itu tak akan berarti buat kami, kami menyayangimu ….” Kata Michelle sembari mendekat kepadaku. Kami bertiga pun berpelukan. Kehangatan keluarga yang tak pernah berubah meskipun apa yang aku lakukan sangat melukai hati mereka.
“Maaf bu…. Waktu menjenguk habis” polisi yang berjaga sedari tadi, kembali merusak suasana.
“Iya pak …. Sebentar lagi kami pulang, ijinkan saya bertemu anak saya tidak lebih dari lima menit lagi Pak !!.” ibuku kembali harus menyakinkan polisi itu untuk memberikan sedikit kelonggaran waktu.
“Baiklah silahkan… jika lebih dari lima menit, jangan salahkan saya bila harus mengusir ibu dari ruangan ini.” Polisi itu kembali menggertak.
“Dear… take care of your self!! Listen to me, renungkan semua kesalahanmu, jangan lagi mengulang kesalahan yang sama, dengarkan kata hati, jangan dengarkan orang lain yang bisa membuatmu semakin terpuruk. Remember dear, we’re your family, will keep waiting for you, will always love, and forgive your mistakes, when everyone is against you.” kata ibu yang makin mengukuhkan semangatku.
“Thanks mom…. Sampaikan salam dan maafku buat daddy disana. I love you all…”
“ok dear… I must go now, actually I want keep here for accompany you, but that police will chasing me away.. Bye dear…God bless you“ kata ibu pamit kepadaku
“Ant… aku pergi dulu ya… ingat pesan ibu.. jaga dirimu !! Love you …” Michelle pun mengucakan kata perpisahnnya kepadaku.
Untuk yang terakhir dalam pertemuan ini, ibu dan Michelle memelukku. Dan aku kembali merenung ketika kuamati mereka melangkah pergi meninggalkanku sendirian disini. Terasa berat langkah mereka, apalagi ibu yang terus menengok ke belakang melihat anak sulungnya yang sebentar lagi akan terpasung dalam jeruji penjara.

Hari-hari berlalu pergi dan tak terasa telah 5 bulan aku terkungkung dalam gelapnya jeruji penjara. Setelah berkas kasusku dilimpahkan ke pengadilan dan penyelidikan sudah dilakukan. Kini, saat penetuan nasibku pun dimulai. Dua hari lagi aku menjalani sidang penentuan vonis. Tak bisa kupungkiri kegelisahan hatiku yang makin membuncah. Semakin lama semakin menggunung. Keluargaku tak diizinkan menjenguk dengan alasan untuk proses penetralan menjelang sidang. Dan kontan semenjak aku masuk penjara, dukungan moril hanya kudapat dari keluarga, dan kerabat dekat. Sementara, Azzam, Jamal, Rudi dan Farhan kini juga menjadi tahanan. Mereka ditangkap selang kurang lebih sebulan semenjak aku diciduk polisi
Keluargaku telah menyewakan seorang pengacara handal sebagai pembelaku. Aku makin merasa bersalah kepada mereka. Kepada ibu khususnya, ia masih menepati janjinya untuk terus menyayangi dan membelaku, apapun resikonya. Tapi menurutku, seberapapun handalnya pengacara itu, aku masih tetap yakin bahwa hukuman yang akan kudapat akan berat. Karena “calon kejahatan” yang hendak kulakukan begitu terencana dan mengancam banyak jiwa. Sebenarnya, setelah sekian bulan dipenjara, tiap hari aku merenung atas perbuatan yang kulakukan. Gejolak selalu muncul dalam hatiku, mengombang-ambingkan keyakinan yang selama ini kupegang teguh, apakah jalan “berjihad” yang aku tempuh ini benar adanya. Dalam hati aku merasa bersyukur Allah masih menyelamatkanku dengan cara membiarkan polisi menangkapku sebelum dapat kuledakkan bom itu. Mungkin inilah caraNya menyelamatkanku dari jalan salah yang selama ini menjadi tempat ku berjalan.
Akhirnya sidang pembacaan vonisku dimulai, dua hari ternyata terasa cukup lama untuk dilalui di penjara. Semenjak berangkat dari rutan, jantungku terus berdebar tak karuan. Beragam vonis dari mulai hukuman puluhan tahun penjara, seumur hidup hingga yang terberat hukuman mati terus mengiang-ngiang di telingaku.
Aku dipersilakan duduk di kursi panas peradilan. Dari belakang dapat kudengar suara orang-orang yang mencaci maki kelakuanku. Aku mencoba menutup telinga atas kata-kata mereka. Tapi setelah pandanganku terarah pada sosok wanita paruh baya di barisan depan, yang nampak mulai meneteskan air matanya, hatiku semakin terasa teriris-iris. Wanita itu tak lain dan tak bukan adalah ibuku. Sejak persidangan pertama hingga hari ini, ibu selalu setia datang tentu saja bersama ayah, dan adikku. Mereka selalu nampak tegar dan tak pernah menangis di hadapanku demi memberikan dukungan moril kepada anak dan kakaknya. Namun kini, ibuku tak kuasa membendung air matanya. Mungkin ia merasa sakit hati dengan caci maki orang-orang yang anti pada kami. Karena dari pengamatanku, dari sidang terakhir ini, jumlah mereka semakin berlipat ganda dari sidang sebelumnya.
Hakim telah memasuki ruang sidang. Dan celotehan orang-orang tadi pun berhenti. Membuat kupingku sedikit beristirahat karena sedari tadi terus memerah mendengar kata-kata mereka. Proses sidang terus berlanjut, dan tiba saatnya pembacaan vonis.
“……menyatakan terdakwa Antonio Martinez, terbukti secara sah telah bersalah melakukan tindak pidana turut serta mengadakan aksi teror bom berencana. Memidana terdakwa tersebut dengan hukuman pidana penjara selama lima belas tahun ”
Jantungku terasa tercabut mendengar kata-kata final tersebut. Tapi apalah daya, vonisnya yang terang-terangan menikam diri dan keluargaku ditambah ketukan palu yang makin membuatnya terkesan begitu angkuh itu tak akan pernah bisa kulawan.

Lima belas tahun kemudian…..
Tak terasa lima belas tahun telah berlalu. Derita dan hari-hari panjang yang kulalui di penjara pun berakhir. Usiaku sekarang adalah 35 tahun. Terasa lebih dewasa bila dibandingkan dulu yang masih belum stabil dan mudah terombang ambing oleh emosi. Hingga mudah sekali terpengaruh akan aliran-aliran ekstrim dan radikal yang tak sepatutnya ku ikuti. Dalam hati aku merasa teramat menyesal, karena begitu ku sia-siakan masa mudaku dengan perbuatan memalukan yang resikonya harus kutanggung selama lima belas tahun terkungkung dengan hak akan kebebasan yang terenggut dari diriku. Tapi ya sudahlah, toh manusia bijak adalah bukan manusia yang selalu menoleh ke belakang untuk mengungkit-ungkit masa lalu hingga ia akan selalu berada di tempat yang sama tanpa bisa beranjak untuk meninggalkannya. Tetapi adalah manusia yang menjadikan masa lalunya yang buruk sebagai pelajaran dan pengalaman, tetapi disisi lain ia akan terus melangkah kedepan menuju jalan yang lebih indah tanpa terperosok dalam lubang yang sama yang dulu pernah digalinya.
Sepulang dari penjara, tujuan utamaku adalah menuju ke rumah yang selama ini aku rindukan. Rumah dimana aku dibesarkan dengan curahan kasih sayang tak terbatas dari kedua orang tuaku. Langkahku begitu ringan, dengan senyum yang terus tersungging dari wajahku. Udara juga terasa segar dan bersahabat, mungkin suasana penjara telah melemahkan fungsi inderaku hingga asap tak sedap pun rasanya bagai udara pegunungan.
Tok tok tok….. kuketuk pintu rumahku. Sengaja memang tak kuberi tahu ayah dan ibu akan kepulanganku hari ini. Semoga kedatanganku dapat memberi sedikit kejutan membahagiakan buat mereka. Tak lama pintu pun dibuka oleh sesosok perempuan yang telah menua, dengan uban yang memenuhi kepalanya. Ekspresi terkejut dan bahagianya tampak ketika melihatku. Matanya yang sayu dan lelah segera berubah berbinar-binar.
“Ant…. Kenapa tidak bilang kau akan pulang sekarang? Dad… Michelle ….!!! Ant datang ….” Ibu sangat bahagia melihatku pulang, ia langsung memeluk dan berteriak-triak memanggil ayah dan adikku untuk datang.
Tak lama kemudian, dua orang lain yang teramat kucintai selain ibuku pun datang. Ekspresi mereka tak kalah bahagianya dari ibu. Tak terkecuali ayah. Aku kembali ingat saat-saat beliau begitu marah kepadaku. Saat dimana untuk kali pertama beliau mengutuk dan meninggalkanku di ruang introgasi 15 tahun yang lalu. Tapi sekarang keadaan itu berbalik 180 derajat. Ternyata benar kata pepatah habis gelap, seberapa lama pun itu pasti akan terbit terang. Dan inipun terjadi kepadaku, ujian terberat dipenjara telah ku lewati, dan sekarang adalah saatnya untuk menata hati dan hidupku menyambut masa depan.
Kehangatan keluarga kembali hadir menyapaku ketika kami berbincang di ruang keluarga. Ternyata tak ada yang berubah dari rumah ini, hanya sekarang semakin terasa meriah karena Michelle kini sudah menikah dan memiliki dua orang anak, laki-laki dan perempuan. Ia mendapat jodoh seorang asli Indonesia, dan untungnya aku diizinkan datang sebentar ke pernikahannya.

Tiga bulan kemudian ….
Sudah tiga bulan ternyata aku menghirup udara kebebasan. Dan hingga hari ini, tak ada yang bisa kulakukan selain berdiam diri di rumah. Sebenarnya aku sudah berusaha untuk melamar pekerjaan ke berbagai tempat, tapi nampaknya tak ada tempat yang mau menerima mantan teroris sepertiku. Sebenarnya dalam hati, masih ada niatku untuk menjadi seorang mujahid, tapi bukan dengan jalan menjadi teroris. Terus terang aku kapok! Jika ada jalan lain yang bisa kulakukan, akan ku tempuh jalan itu. Daripada di rumah hanya akan menjadi beban buat ayah dan ibu.
Seperti biasa, di pagi buta ini aku sudah bangun dan mempersiapkan map-map berisi surat lamaran kerja. Jikalau sampai ada satu tempat yang menerimaku apapun pekerjaannya dan berapapun gajinya, aku akan terima. Pukul 6 pagi, aku sudah keluar rumah, menghindari kemacetan Jakarta yang semakin hari semakin parah. Dan baru pada pukul 8 aku sampai di tempat yang kutuju. Sesampai disana kulihat perkantoran itu masih sepi. Kata satpam yang berjaga, kantor baru akan buka pukul 9. Jadilah aku menunggu saja, daripada harus pergi dan terjebak kemacetan lagi. Sambil menunggu satpam itu menawariku sebuah koran. Dan ketika kubaca lembar demi lembar, aku terperanjat dengan kolom berita “Israel Kembali Gempur Palestina”. Ternyata selama aku dipenjara masih ada saja peperangan yang terjadi. Ketika kubaca bait demi bait, aku tersentuh membayangkan penderitaan warga Palestina, saudara seimanku yang terus didzalimi pasukan sekutu Amerika tersebut.
Aku tersentak membaca kolom berita selanjutnya yang berjudul “PMI Butuhkan Relawan ke Palestina”. Hatiku bergolak hebat, apakah ini rencana Allah untukku? Memberikan jalan yang benar bagi diriku untuk berjihad. Ingin sekali aku pergi ke sana. Bukan lagi sebagai teroris tetapi sebagai seorang relawan. Suatu pekerjaan yang benar-benar mulia, bukan yang “dimuliakan” oleh sebagian golongan, dan bila aku harus mati disana, insyaAllah aku mati syahid. Tapi di sisi lain, aku khawatir dengan ayah ibuku. Akankah mereka memberikan izin untuk anaknya yang baru saja bebas ini untuk hijrah ke medan perang?
Setelah selesai membaca berita yang menggugah hatiku itu. Aku ambil secarik kertas dan menuliskan alamat kantor PMI tersebut. Dalam hati aku telah membulatkan tekadku untuk pergi, tapi sebelumnya aku akan pulang terlebih dahulu untuk meminta izin ayah dan ibu. Dan si satpam yang sedari tadi diam, terheran-heran ketika aku pamit pulang padanya, padahal hari telah menunjukkan pukul 8.45 dan sebentar lagi kantor itu akan buka.
“Loh pak… sebentar lagi kantornya buka lho.. nggak ditunggu aja pak? Sayang lho udah nunggu dari tadi, eh ini malah mau pulang.” Kata satpam itu.
“ahh tidak pak terima kasih, saya mau ada urusan lain yang lebih penting. Melamar pekerjaannya bisa lain kali. Ya sudah pak saya pamit dulu. Oh ya terima kasih juga buat korannya. Assalamu’alaikum…” pamitku pada pak satpam baik hati itu
“ohh iya sama-sama. Wa’alaikumsalam.” Jawabnya.
Kupercepat langkahku menuju ke rumah. Tak sabar lagi aku meminta izin untuk segera berangkat ke Palestina. Dan sesampainya di rumah….
“Loh Ant, kok sudah pulang? Bukannya kau mau melamar pekerjaan?” kata ibuku yang nampak kaget dengan kepulanganku.
“mom, dad ada ?? aku mau bicara sama kalian…” tanyaku menggebu-gebu.
“kenapa cari dad? Kelihatannya penting sekali, dia lagi di belakang, sebentar mom panggilkan.”
Tak lama ayahku pun datang. Aku memberanikan diriku untuk bicara pada mereka.
“Mom, dad…. Ant mau bicara, sebenarnya tadi waktu mau melamar kerja, Ant baca koran, dan di salah satu kolom koran itu, ada berita tentang perang antara Israel dan Palestina. Dan di kolom lain, PMI sedang mencari relawan untuk dikirim ke Palestina. Sebenarnya berat mau ngomong ini ke mom and dad. Ant mau minta izin untuk berangkat ke sana.” Jelasku panjang lebar
“Apa?? Maumu itu apa sih? Baru saja bebas kau dari penjara, sekarang mau pergi lagi? Dad sama mom tak akan mengizinkanmu! Kau tahu resikonya kan kalau berangkat ke sana. Pikirkan dulu masak-masak, jangan lagi gegabah seperti dulu.” tutur ayah.
“Dad benar Ant…. Kau tahu perasaan kami kan… melepas seorang anak itu tak mudah. Apalagi ke medan perang. Kami terlalu sayang padamu, dan tak ingin lagi kehilanganmu untuk yang kedua kalinya. Sudahlah di rumah saja, cari pekerjaan dan menikahlah. Kami ingin mendapat cucu darimu.” ibu mulai terisak.
“Dad…mom, Ant tau resikonya, tapi kupikir inilah jalan yang Tuhan berikan buatku untuk menjadi seorang mujahid yang sesungguhnya. Aku ingin menebus semua dosa-dosaku, dan kali ini dengan jalan yang halal dan benar, tolongah dad, mom…. Restui anakmu ini, aku tau resikonya, dan bila memang nyawaku harus tercabut disana, aku rela.” Pintaku. Kali ini aku bersujud di kaki mereka berdua, memohon dengan teramat sangat agar merestui niat baikku yang sesungguhnya.
“sudahlah Ant… dad sedang tidak mau berdebat, pikirkan lagi rencanamu!” ayah beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan kami.
“Mom… bagaimana? Aku mohon, kali ini dengan kesungguhan hati, izinkan aku berangkat…please …!!!”
“Nak…tidak adakah cara yang lain selain meninggalkan kedua orang tuamu sendirian disini?” kata ibu
“Tidak ada mom…. Tolong….mom dan dad tidak akan sendirian, masih ada Michelle kan??” yakinku pada ibu.
“Ini beda nak… biarpun ada Michelle, tapi pasti kami akan merindukanmu…apa kau tak kasian pada kami, mungkin karena kau belum punya anak, makanya kau tak tahu bagaimana rasanya menjadi orang tua.” Kata ibu dengan tersedu-sedu.
“Baiklah mom, aku tidak akan menagih restu untuk saat ini, tapi aku harap dua hingga tiga hari lagi mom dan dad sudah merestuiku, karena aku akan tetap berangkat. Maafkan aku…selama ini sebagai anak aku hanya bisa menyusahkan kalian berdua, suatu saat nanti aku yakin aku bisa membuktikan pada kalian bahwa aku bisa dibanggakan.”pintaku untuk yang terakhir kali.
Tiga hari kemudian, akhirnya aku berhasil meyakinkan ayah dan ibu untuk merestuiku berangkat. Segera aku menuju ke kantor PMI untuk menyerahkan formulir sebagai relawan, dan keesokan harinya aku menerima kabar bahwa aku diterima.
Semakin yakin tekadku untuk berangkat. Aku yakin inilah rencana Allah yang sebenarnya. Dia telah memberikan jalan bagiku, dengan mengutus satpam yang memberikan korannya padaku, dan juga restu dari ayah dan ibu. Seminggu lagi aku akan berangkat ke Palestina untuk menjadi relawan. Aku tak sabar lagi menunggu hari itu tiba. Aku berjani akan melakukan apapun untuk menolong korban-korban disana. Semampuku, sebisaku….!!!
Terima kasih ya Allah… kau telah mengizinkanku menjadi tentaraMu…..

6 comments:

  1. wekk bgus nih...g sia" nulis 8 lmbar..sip lah pkok'e...ckckck

    ReplyDelete
  2. hahah... udah bca smua a ??
    alhamdulillah klo dblg bgus ... C:

    ReplyDelete
  3. hehe, yg buat ya redhitong to, mosok karim habeibh ?? wkwkwk

    ReplyDelete
  4. weys karim habeibh lagi mikir pngen buat apa ki,,,,biar g klah ma redhitong,,,,wkwkwk

    ReplyDelete
  5. hehe... yawis tak tunggu kryane karim habeibh.. wkwkwk
    kita liat bgusan mna ...

    ReplyDelete