Dear “Loves Life”, postingan baru sya kali ini agak beda dikiitt… ga sengaja dapet ilham (tapi bukan M.Ilham lho) buat nulis, hehe … ya sudahlah dibaca aja tulisan senggenahnya pnya sya ini*laugh..
Cerita berawal dari gerbang sekolah yg paling ku cintai setelah SMPN 1 Bojonegoro, yup SMT! Pulang sekolah seperti biasa aku berjalan menuju ke depan untuk menunggu bis atau angkot yg lewat untuk mengantarku pulang ke rumah. Waktu telah menunjukkan pukul 16.30, lama kutunggu tak juga datang kendaraan itu. Dan dari dalam SMT kulihat dua orang temanku datang bak malaikat dengan rambut panjang tergerai milik mereka, Oppie dan Nynda, dua orang kembar beda ayah beda ibu. Membawa 2 motor, Nynda bersama Rizki, satu temanku lagi yang duduk membonceng di belakangnya. Kulihat Oppie sendiri, ya sudahlah muncul sebuah pikiran di benakku. Daripada sendirian menunggu bis yang tak tau rimbanya, mending aku nebeng Oppie sampai ke terminal yg letaknya lumayan jauh dari sekolahku. Akhir kata, aku berhasil membujuk Oppie untuk menebengiku sampai ke teriminal.
Sesampainya di terminal …
Kulihat sebuah bis dengan dominasi warna putih dan merah cinta Indonesia bertajuk “Dali Mas” tujuan Surabaya tengah diam menunggu penumpang seperti menunggu kupu-kupu menyambangi bunga, di pertigaan pintu keluar terminal. Memang ciri khas orang Indonesia, tak tertib parkir, apalagi kendaraan umum! Sekenanya saja parkir sembarangan, emang jalanan punya nenek moyang dia apa ? tapi ya sudahlah (sekali lagi lagunya Bondan) akhirnya sya pilih untuk berhenti di sana, dan naik ke bis itu daripada harus capek-capek masuk ke terminal (ciri khas orang Indonesia nomer 2 : Udah di kasih tempat yg enak, malah milih yg ga enak dengan alasan MALES!).
Kulangkahkan kaki menuju bis itu, sembari mendengar dari belakang kenek yang telah meneriakkan suara lantangnya “Mbak ngetan mbak … ayo ayo !!!”. Begitu masuk ke dalam, kulihat situasi lengang alias sepi sepi saja, siplah daripada rame. Hanya ada segelintir orang yang duduk di barisan depan, sementara kursi belakang tampak kosong tak berpenghuni. Dan aku memutuskan untuk menuju ke barisan depan. Belum sempat aku duduk dan bersandar, aku lihat seorang bapak-bapak yg ga sayang diri sendiri duduk di depanku, tengah asyik menghisap rokoknya, dan asapnya tentu saja mengepul sampai jauh…(kyak iklan pompa air : dimana air mengaliiiiiirrr sampai jauuuuhhh) ok back to our topic. Karena ga suka sama rokok, asep rokok, apalagi yg ngrokok*halah mbulet, akhirnya kuputuskan untuk pindah saja ke belakang, situasi sepi cocok buat merenung, hehehe. Kupilih tempat duduk dekat pintu belakang bis, tentu dengan satu tujuan utama yaitu bisa kena angin, wkwkwk. Sambil menunggu bis yang juga lagi nunggu penumpang, aku melihat-lihat dari kaca jendela, lalu lalang kendaraan sembari mengamati seorang mas-mas berkaos putih memakai ransel dipunggungnya didepan warung kopi, duduk asyik mengamati jalan sambil menikmati kopinya, hihihi. Tak terasa seorang pengamen kecil berumur sekitar 12 tahun masuk ke dalam bis, pengamen itu yang kemarin aku lihat, juga ketika aku sedang naik bis untuk pulang ke rumah. Menyaksikannya membawa gitar kecil dengan muka dekil dan kaos yang sepertinya dari kemarin tak ganti, dalam pikiranku muncul rasa kasian sekaligus bersyukur. Kasian karena di umurnya yang masih belia, ia harus berjuang sendirian, dikelilingi dengan lingkungan yang sebenarnya tak sehat bagi perkembangannya. Entahlah bangku sekolah masih dinikmatinya atau tidak. Dan bersyukur karena aku dilahirkan dari keluarga yang meskipun tak kaya tapi mampu membiayaiku sekolah dan mencukupi kebutuhanku, juga ditambah dengan orang tua dan keluarga yang sepenuhnya sayang padaku. Jadi aku tak harus bersusah payah mencari rezeki untuk menyambung umurku. Cukup dengan belajar tenang di sekolah.
Si anak tadi duduk di belakang kursi yang ku duduki. Kulihat ia mengamatiku dan kemudian bertanya “Mudun ndi mbak…??”
“Sumberrejo dik…” jawabku. Kulihat raut muka kelelahan tapi semangat dari wajahnya.
Tak terasa cukup lama bis “cinta Indonesia” ini diam menunggu penumpang. Dan si supir nampaknya sudah tak sabar untuk segera memainkan setirnya. Dan bis pun melaju. Keluar dari area terminal, ternyata banyak penumpang yang menunggu. Satu persatu mereka naik. Dan disebelahku yang semula kosong, kini di duduki oleh seorang ibu ibu berjilbab abu-abu. Bis inipun segera pergi membelah jalanan kota. Ternyata seorang pengamen yang sudah mas-mas ikut naik, ia ternyata kenal dengan adik pengamen yang menanyaiku tadi.
Ketika bis telah berjalan, mas-mas pengamen tadi memulai aksinya. Ia menyanyikan lagu anak jalanan dengan hanya bermodal suara dan tepukan tangannya sendiri. Setelah selesai bernyanyi, ia membuka sisa bungkus permen dan mengadahkannya satu persatu ke penumpang, bilamana ada penumpang yang dengan ikhlas memberikan sedikit uang untuknya. Selesai meminta uang ke penumpang, mas itu berdiri di belakang tak jauh dariku. Ia bilang “ee… nggih ngeteniki pak gawean kulo, daripada kerjo haram, koyo nyopet ngoteniku, nggih mending ngamen”. Dan percakapannya dengan penumpang lain dibelakangpun dimulai. Ibu-ibu di sebelahku tadi bertanya, “Lha kok Cuma tepuk-tepuk mas? Gitare pundi?”
Si mas tadi menjawab “wau kulo bakdho saking Malang bu, wonten acara, niku lho Bonek (Bondo Nekat.red), nonton bal-balan. Gitar kulo, kulo sadhe kangge tumbas maem. Eee.. nggih ngeteniki lah bu pengamen… timbang kerjo haram, nggih mending dados pengamen, saithik ndang sing penting cukup kangge mangan. Mboten usah reno-reno, koyo ngrokok, ngombe. Malah nek ga kuat tuku terus nyopet ngoteniku”. Kulihat raut kepasrahan dalam jiwanya. Aku salut, ditengah himpitan ekonomi, ia masih mampu berfikir jernih mencari uang dengan jalan halal.
Obrolan tadi berlanjut hingga ke sepak bola. Karena ia mengaku Bonek, seorang penumpang menanyainya tentang serba-serbi supporter. Iapun kembali bercerita “Bonek niku nggih ngeteniki pak, bu… wingi saking Jakarta, mboten gadhah yotro, numpang kereta KRD, ngomong dhateng masinise, saya Bonek pak, nggih saged nyampek lho. Demi nonton bal-balan pak, direwangi bondho nekat”. Ahh satu lagi keherananku pada supporter sepak bola Indonesia, yang rela apapun demi klub yang dibelanya sampai rela melancong jauh tanpa persediaan uang apapun, bahkan hingga berujung maut (penyakit orang Indonesia nomer 3 : merelakan sesuatu yang berharga cuma demi hal “SEPELE”).
Mas-mas tadi akhirnya pamit, karena ia akan turun menuju “mess” nya. Kulihat ia masih berdiri di dekat pintu bis. Dari belakang kudengar seorang penumpang tengah berkoar tentang negative nya profesi pengamen, dari yang suka mencuri sampai apalah itu namanya, padahal mas tadi masih ada disana, tak jauh dari penumpang itu. Dalam hati aku berfikir, apa penumpang itu tak punya hati, benar memang profesi pengamen banyak dianggap remeh dan negative bagi sebagian orang. Tapi bagiku mereka juga memiliki sisi positif, salah satunya adalah ketabahan dan niat suci mereka untuk tetap mencari rezeki di jalan yang benar. Mereka jauh lebih baik daripada pencopet dan sejenisnya!!! Dan tentu saja mereka masih punya hati !!! (penyakit orang Indonesia nomer 4 : menganggap orang lain jauh lebih buruk dibanding mereka, padahal belum tentu mereka lebih baik)
Tak lama setelah mas pengamen itu turun, aku berbincang dengan ibu-ibu yang duduk di sebelahku. Ia bercerita tentang anaknya yang bersekolah di RMBI, dan satunya lagi di sekolah plus pondok pesantren khusus laki-laki pertama di Bojonegoro. Dari sana, oborolan kami terus berlanjut hingga ia menceritakan berbagai kisah sukses lulusan “sekolah plus” itu, juga kisah sukses lain milik tetangga dan saudara-saudaranya. Yaahh taulah apa motifnya tuh ibu-ibu cerita gitu ke sya. Hahaaa … tapi yang pasti ada satu kalimat ibu itu yang masih terkenang hingga sekarang. “Gini lho mbak, jaman sekarang cari laki-laki sama perempuan yang pinter sekaligus sholeh dan sholehah itu susah. Seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Kadang ada yang pinter tapi nggak ngerti agama, kadang ada juga yang sholeh tapi nggak pinter, yawis ngono iku lah ….” yah emang bener sih kata ibu tadi. Cari orang yang pinter dunia sekaligus pinter agama itu SUSAH !!!
Sebenernya apa sih intinya cerita di atas. Intinya itu menurutku adalah hidup itu seperti dua sisi mata uang yang berbeda, di satu sisi aku dengar kisah yang menurut orang adalah hidup yang “harus dihindari” karena tak sukses. Dan disisi lain adalah ada kisah kesuksesan yang luar biasa, yang menurut banyak orang ideal dan harus dicita-citakan untuk tercapai. Tinggal pilih sekarang, mana sisimu?
Bojonegoro, 6 Mei 2011
Pukul 21.00
with love

hahaha...kesimpulan dari perilaku masyarakat indonesia tu..
ReplyDelete& satu lagi...skula plus?? kyak knal deh aq...wkwkwk
ciipp dah ... emang gitu og knyataannya ...
ReplyDeletehaha, ngarasa yaa ?? yo msti knal to, amnesia nek smpek ga inget
ya kasian lah,,,aib indonesia...wkwkwk
ReplyDeletepondokq tercinta tuh...pngen ksana....klo qm kan spensa tercinta..hahaha
iyaya tau akuu...aib indonesia b'arti aibku jg*lha emang ....
ReplyDeletekngen spensa dan sgala knangannya... :(
aibku jg brarti..hadeh
ReplyDeletelha kngen kmren udah nd koni ktmu smwa..hehehe
iya laahhh .... hahaha :D
ReplyDeletengrasa org indonesia po ga ??
ktmu smua piye ?? bbrapa tok og ...
ngrasa sii...hehe
ReplyDeletetp kan udah ilang to kngen ny...
yg follow bnyak ya...wjarla blog bgus... :D
alhamdulillah situ ngrasa jg ... wakakaka
ReplyDeleteblm ilang sbenere ... pngen skelas lg kya dlu .. hehehe
followersny dkmpulin dri smp, mkanya wjarlah bnyakk ...